Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
ida sunarsih lina ratnawati Republika Tempo Detiknews Media Indonesia Jawa Pos Okezone Yahoo News New York Times Times Forbes
Google Yahoo MSN
Bank Indonesia Bank Mandiri BNI BCA BRI Cimb Niaga BII
Education Zone Ekonomi Mikro Ekonomi Makro KTI-PTK Akuntansi Komputer Media Pend.Askeb Media Bidan Pendidik Kampus
Free Template

Sabtu, 22 Januari 2011 | 23.03 | 0 Comments

retensio plasenta


BAB I
PENDAHULUAN

1.1           Latar Belakang
Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu dibanyak negara berkembang terutama disebabkan oleh pendarahan pasca persalinan, eklampsia, komplikasi keguguran. Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian Ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah. Melalui pencegahan yang efektif, beberapa Negara berkembang dan hampir semua Negara maju, berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian Ibu ketingkat yang sangat rendah.
Pada kala 3 persalinan, miometrium berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ini menyebabkan berkurangnya tempat pelekatan plasenta karena tempat pelekatan plasenta semakin kecil sedangkan ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta akan terlipat, menebal, dan kemudian lepas dari dinding uterus.
Asuhan kesehatan Ibu selama dua dasa warsa terakhir terfokus pada : keluarga berencana, asuhan antenatal terfokus, asuhan pasca keguguran, persalinan yang bersih dan aman serta pencegahan komplikasi, penata laksanaan komplikasi. Di dalam makalah ini penulis akan membahas : tentang retensio plasenta, rencana asuhan atau perawatan pada retensio plasenta, serta manual plasenta.

1.2           Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan retensio plasenta?
2.      Apa penyebab Plasenta belum lahir?
3.      Sebutkan faktor faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta!
4.      Apa saja Rencana Asuhan atau Perawatan Pada Retensio Plasenta?
5.      Apa yang dimaksud dengan manual plasenta?
6.      Apa indikasi manual plasenta?
7.      Bagaimana Prosedur Manual Plasenta?
8.      Bagaimana teknik manual plasenta?
1.3           Tujuan
Umum:
            Untuk Mengetahui tentang Retensio Plasenta Serta asuhan yang harus dilakukan pada penderita juga tentang manual plasenta

Khusus:
1.      Untuk mengetahui penyebab plasenta belum lahir
2.      Untuk Mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta
3.      Untuk mengetahui Rencana Asuhan atau Perawatan Pada Retensio Plasenta
4.      Untuk mengetahui indikasi manual plasenta
5.      Untuk mengetahui prosedur serta teknik manual plasenta















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Retensio Plasenta
Retensio plasenta merupakan plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan pendarahan post partum  dini atau perdarahan post partum lambat yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan
Sebab-sebabnya plasenta belum lahir bisa karena:
a). Plasenta belum lepas dari dinding uterus; atau
b). Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.
Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena:
a). Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta
b). Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus desidua sampai miometrium- sampai di bawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta).

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelepasan Plasenta :
1. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks, kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus kontraksi yang tetanik dari uterus serta pembentukan.
2. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa implantasi di corpus dan adanya plasenta akreta.
3. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan , seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik
. Pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta, serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus.
           




2.3Rencana Asuhan atau Perawatan Pada Retensio Plasenta
  1. Jika plasenta terlihat, lakukan penegangan tali pusat terkendala dengan lembut dan tekanan berlawana arah kea rah dorsokranial pada uterus, minta Ibu untuk meneran agar plasenta keluar
  2. Setelah plasenta lahir lakukan masase pada uterus dan periksa plasenta

ATAU
  1. Lakukan pemeriksaan dengan tangan lembut, jika plasenta ada di vagina, keluarkan dengan hati hati sambil melakukan tekanan berlawanan arah(kea rah dorsokranial)pada uterus
  2. Jika plasenta masih di dalam uterus dan perdarahan minimal, berikan oksitosin 10 unit IM, pasang infuse menggunakan jarum berdiameter besar (16/18) dan berikan ringer laktat atau garam fisiologis (NS)
ü  Segera rujuk ibu ke fasilitas terdekat dengan kapabilitas kegawatdaruratan obstetric
ü  Dampingi ibu ke tempat rujukan

  1. Jika plasenta masih dalam uterus dan ada perdarahan berat pasang infuse berdiameter besar (ukuran 16/18) dan bri RL atau cairan garam fisiologis (NS) dengan 20 Unit Oksitosin
ü  Coba lakukan plasenta manual dan lakukan penanganan lanjutan
ü  Bila tidak memenuhi syarat plasenta manual ditempat atau tidak kompeten maka segera rujuk ibu ke fasilitas terdekat dengan kabilitas kegawatdaruratan obstetri
ü  Dampingi ibu ke tempat rujukan
ü  Tawarkan bantuan walaupun ibu telah dirujuk dan mendapat pertolongan di fasilitas kesehatan rujukan

2.4 Manual Plasenta
Manual Plasenta adalah tindakan untuk melepas plasenta secara manual (menggunakan tangan) dari tempat inplantasinya dan kemudian melahirkannya keluar dari kavum uteri

2.5 Indikasi Manual Plasenta
Indikasi pelepasan plasenta secara manual adalah pada keadaan perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc yang tidak dapat dihentikan dengan uterotonika dan masase, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir dan tali pusat putus.

2.6 Prosedur Manual Plasenta
Persiapan
ü  Pasang set dan cairan infus
ü  Jelaskan pada ibu prosedur dan tujuan tindakan
ü  Lakukan anastesi verbal dan analgesik per rektal
ü  Siapkan dan jalankan prosedur pencegahan infeksi

Tindakan Penetrasi ke Dalam Cavum Uteri
1.      Pastikan kandung kemih dalam keadaan kosong
2.      Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 cm dari vulva, tegangkan dengan satu tangan sejajar lantai
3.      Secara obstetrik, masukkan tangan lainnya(punggung tangan menghadap ke bawah) ke dalam vagina dengan menelusuri sisi bawah tali pusat
4.      Setelah mencapai bukaan serviks, minta seorang asisten atau penolong lain untuk memegangkan klem tali pusat kemudian  kemudian pindahkan tangan luar untuk menahan fundus uteri
5.      Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan dalam hingga ke kavum uteri sehingga mencapai tempat inplantasi plasenta
6.      Bentangkan tangan obstetrik menjadi datar seperti memberi memberi salam (ibu jari merapat ke jari telunjuk dan jari jari lain saling merapat)

Melepas Plasenta Dari Dinding Uterus
7.      Tentukan inplantasi plasenta, temukan tepi plasenta paling bawah.
·         Bila plasenta berimplantasi di korpus belakang,tali pusat tetap disebelah atas dan siapkan ujung jari jari tangan diantara plasenta dan dinding2 uterus dimana punggung tangan tangan menghadap bawah(posterior ibu)
·         Bila dikorpus depan maka pindahkan tangan ke sebelah atas tali pusat dan siapkan ujung jari jari tangan diantara plasenta dan dinding uterus dimana punggung tangan menghadap ke atas (anterior ibu)
8.      Setelah ujung2 jari masuk diantara plasenta dan dinding uterus maka perluas perlepasan plasenta dengan jalan menggeser tangan kanan dan kiri sambil digeserkan ke atas (kranial ibu) hingga semua perlekatan plasenta terlepas dari dinding uterus
Catatan:
·         Bila tepi plasenta tidak teraba atau plasenta berada pada dataran yang sama tinggi dengan dinding uterus maka hentikan upaya plasenta manual karena hal itu menunjukkan plasenta ikreta(tertanam dalam miometrium)
·         Bila hanya sebagian dari inplantasi plasenta dapat dilepaskan dan bagian lainnya melekat erat maka hentikan pula plasenta manual karena hal tersebut adalah plasenta akret.untuk keadaan seperti ini sebaiknya diberi uterotonika tambahan (misoprostol 600 mcg per rektal) sebelum dirujuk ke fasilitas rujukan.

Mengeluarkan Plasenta
9.      Sementara satu tangan masih didalam cavum uteri, lakukan eksplorasi untuk menilai tidak ada plasenta yang tertinggal
10.  Pindahkan tangan luar dari fundus ke supra simfisis (tahan segmen bawah uterus) kemudian instruksikan asisten atau penolong untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam membawa plasenta keluar (hindari terjadinya percikan darah)
11.  Lakukan penekanan (dengan tangan yang menahan supra simfisis) uterus kearah dorso kranial setelah plasenta dilahirkan dan tempatkan plasenta didalam wadah yang telah disediakan.

Pencegahan Infeksi Pasca Tindakan
12.  Dekontaminasi sarung tangan (sebelum dilepas) dan peralatan lain yang digunakan
13.  Lepaskan dan rendam sarung tangan dan peralatan lainnya didalam larutan klorin 0,5 % selama 10menit
14.  Cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir
15.  Keringkan tangan dengan handuk bersih dan kering


Pemantauan Pasca Tindakan
16.  Periksa kembali tanda vital ibu
17.  Catat kondisi ibu dan buat laporan tindakan
18.  Tuliskan rencana pengobatan, tindakan yang masih diperlukan dan asuhan lanjutan
19.  Beritahukan pada ibu dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai tetapi ibu masih memerlukan pemantauan dan asuhan lanjutan
20.  Lanjutkan pemantauan ibu hingga 2 jam pasca tindakan sebelum dipindah keruang rawat gabung

2.7 Teknik Plasenta Manual
Sebelum dikerjakan, penderita disiapkan pada posisi litotomi. Keadaan umum penderita diperbaiki sebesar mungkin, atau diinfus NaCl atau Ringer Laktat. Anestesi diperlukan kalau ada constriction ring dengan memberikan suntikan diazepam 10 mg intramuskular. Anestesi ini berguna untuk mengatasi rasa nyeri. Operator berdiri atau duduk dihadapan vulva dengan salah satu tangannya (tangan kiri) meregang tali pusat, tangan yang lain (tangan kanan) dengan jari-jari dikuncupkan membentuk kerucut.
Gambar 7-1. Meregang tali pusat dengan jari-jari membentuk kerucut

Dengan ujung jari menelusuri tali pusat sampai plasenta. Jika pada waktu melewati serviks dijumpai tahanan dari lingkaran kekejangan (constrition ring), ini dapat diatasi dengan mengembangkan secara perlahan-lahan jari tangan yang membentuk kerucut tadi. Sementara itu, tangan kiri diletakkan di atas fundus uteri dari luar dinding perut ibu sambil menahan atau mendorong fundus itu ke bawah. Setelah tangan yang di dalam sampai ke plasenta, telusurilah permukaan fetalnya ke arah pinggir plasenta. Pada perdarahan kala tiga, biasanya telah ada bagian pinggir plasenta yang terlepas.8
Gambar 7-2. Ujung jari menelusuri tali pusat, tangan kiri diletakkan di atas fundus

Melalui celah tersebut, selipkan bagian ulnar dari tangan yang berada di dalam antara dinding uterus dengan bagian plasenta yang telah terlepas itu. Dengan gerakan tangan seperti mengikis air, plasenta dapat dilepaskan seluruhnya (kalau mungkin), sementara tangan yang di luar tetap menahan fundus uteri supaya jangan ikut terdorong ke atas. Dengan demikian, kejadian robekan uterus (perforasi) dapat dihindarkan.8
Gambar 7-3. Mengeluarkan plasenta



Setelah plasenta berhasil dikeluarkan, lakukan eksplorasi untuk mengetahui kalau ada bagian dinding uterus yang sobek atau bagian plasenta yang tersisa. Pada waktu ekplorasi sebaiknya sarung tangan diganti yang baru. Setelah plasenta keluar, gunakan kedua tangan untuk memeriksanya, segera berikan uterotonik (oksitosin) satu ampul intramuskular, dan lakukan masase uterus. Lakukan inspeksi dengan spekulum untuk mengetahui ada tidaknya laserasi pada vagina atau serviks dan apabila ditemukan segera di jahit.


















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan jika lepas sebagian, terjadi pendarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya plasenta dengan segera
Perdarahan post partum dini dapat terjadi sebagai akibat tertinggalnya sisa plasenta atau selaput janin. bila hal tersebut terjadi, harus dikeluarkan secara manual atau di kuretase disusul dengan pemberian obat-obat uterotonika intravena. Perlu dibedakan antara retensio plasenta dengan sisa plasenta (rest placenta). Dimana retensio plasenta adalah plasenta yang belum lahir seluruhnya dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam uterus yang dapat menimbulkan perdarahan post partum primer atau perdarahan post partum sekunder.
Sewaktu suatu bagian plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Gejala dan tanda yang bisa ditemui adalah perdarahan segera, uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang

3.1   Kritik dan saran
Setelah membaca dan memahami isi dalam makalah ini diharapkan para  pembaca
 agar :
1.      Memahami pengertian retensio Plasenta
2.      Memahami dan dapat menerapkan asuhan yang harus dilakukan pada retensio plasenta
3.      Memahami pengertian manual plasenta
4.      Mengetahui indikasi dilakukannya manual plasenta
5.      Memahami dan dapat menerapkan prosedur manual plasenta dengan


DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Asuhan Persalinan Normal & Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta: Nasional Pelatiihan Klinik Kesehatan Reproduksi
http:///Wordpress /Retensio plasenta/PERDARAHAN POSTPARTUM (Post Partum Hemorrhagic)
http:///Wordpress/Retensio%20plasenta/referat-retensio-plasenta.html


Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2010 - All right reserved by kebidanan | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by h4r1
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome, flock and opera.